Pentingnya Deteksi Buta Warna Sejak Dini bagi Siswa Sekolah

Bandung – Prevalensi buta warna pada anak sekolah di Indonesia diduga lebih tinggi dibandingkan angka yang selama ini menjadi acuan. Temuan awal dari pemeriksaan di sejumlah sekolah bahkan menunjukkan jumlah kasus gangguan penglihatan warna melampaui perkiraan prevalensi regional, sehingga diperlukan penelitian yang lebih luas untuk memperoleh data yang lebih akurat.
Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo Kota Bandung, dr. Antonia Kartika Indriati, mengatakan hingga kini Indonesia belum memiliki data pasti mengenai prevalensi buta warna pada anak sekolah. Karena itu, deteksi dini dinilai penting tidak hanya untuk membantu proses belajar anak, tetapi juga sebagai dasar penyusunan kebijakan kesehatan dan pendidikan.

“Hasil awal menunjukkan angka gangguan penglihatan warna yang ditemukan bahkan melebihi perkiraan prevalensi regional yang selama ini berada pada kisaran 0,7 hingga 3 persen. Temuan itu dinilai menjadi alasan kuat untuk melakukan penelitian yang lebih luas, mengingat hingga kini belum tersedia data yang pasti mengenai prevalensi buta warna pada anak sekolah di Indonesia,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Antonia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan mata di sekolah selama ini umumnya hanya berfokus pada ketajaman penglihatan. Padahal, kemampuan membedakan warna juga berperan penting dalam proses belajar karena banyak materi pembelajaran menggunakan kode warna.

“Saat ini, banyak materi pembelajaran berbasis warna. Anak yang mengalami gangguan penglihatan warna bisa kesulitan memahami materi, sehingga sering kali dianggap kurang mampu oleh guru, padahal masalah utamanya adalah tidak dapat membedakan warna,” ujarnya.

Menurutnya, dampak buta warna tidak hanya memengaruhi prestasi akademik, tetapi juga kondisi psikologis anak. Tanpa deteksi dini, anak berpotensi kehilangan rasa percaya diri, mengalami tekanan mental, hingga berisiko mengalami depresi akibat kesulitan mengikuti pembelajaran.

Dalam upaya memperoleh data yang lebih representatif sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini, Komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) berkolaborasi dengan RS Mata Cicendo dan Panon Mahia Nusa menggelar pemeriksaan buta warna bagi siswa di SDN 177 Cipedes, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung.

Antonia mengapresiasi keterlibatan anak muda dalam mendorong deteksi dini buta warna melalui Nayan Project yang digagas ACI.

“Kami mengapresiasi upaya edukasi kepada anak-anak, termasuk gerakan Nayan Project ini. Kita optimis bahwa anak-anak muda kita memiliki kepedulian terhadap sesama. Semoga ini bisa direplikasi di banyak tempat dan melibatkan lebih banyak anak muda lagi,” kata Antonia.

Inisiator sekaligus Founder ACI, Celine Winarta, mengatakan prevalensi buta warna secara nasional selama ini diperkirakan sekitar 0,7 persen atau belum mencapai 1 persen. Namun, berbagai penelitian pada populasi sekolah dan masyarakat menemukan angka yang lebih tinggi, yakni berkisar 2 hingga 5 persen, dengan mayoritas kasus terjadi pada anak laki-laki.

“Sebenarnya, prevalensi buta warna secara persentase nasional belum mencerminkan kondisi di lapangan. Maka dari itu, diharapkan dari aksi sosial ini bisa mendapatkan persentase data yang akurat dan bisa digunakan,” kata Celine.

Celine menyadari masih banyak anak di Indonesia yang belum mengetahui kondisi penglihatannya sejak dini. “Berangkat dari kepedulian tersebut, kami ingin membuka akses pemeriksaan bagi lebih banyak anak agar mereka dapat belajar dengan lebih optimal dan merencanakan masa depan sesuai dengan kemampuan serta pilihan yang dimiliki,” tandas Celine.

Menurut Celine, Indonesia dapat belajar dari Jepang dan Singapura yang telah menerapkan pemeriksaan buta warna secara rutin bagi siswa sekolah dasar sebagai program wajib.

“Model tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam membangun sistem deteksi dini yang lebih terstruktur. Kami juga berharap pemeriksaan buta warna tidak lagi bersifat terbatas atau insidental, melainkan dapat diakses oleh seluruh anak Indonesia sehingga dapat mempersiapkan pendidikan dan masa depan anak sesuai dengan kondisi yang dimiliki,” paparnya.

Celine menyadari masih banyak anak di Indonesia yang belum mengetahui kondisi penglihatannya sejak dini. “Berangkat dari kepedulian tersebut, kami ingin membuka akses pemeriksaan bagi lebih banyak anak agar mereka dapat belajar dengan lebih optimal dan merencanakan masa depan sesuai dengan kemampuan serta pilihan yang dimiliki,” tandas Celine.

Menurut Celine, Indonesia dapat belajar dari Jepang dan Singapura yang telah menerapkan pemeriksaan buta warna secara rutin bagi siswa sekolah dasar sebagai program wajib.

“Model tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam membangun sistem deteksi dini yang lebih terstruktur. Kami juga berharap pemeriksaan buta warna tidak lagi bersifat terbatas atau insidental, melainkan dapat diakses oleh seluruh anak Indonesia sehingga dapat mempersiapkan pendidikan dan masa depan anak sesuai dengan kondisi yang dimiliki,” paparnya.

Baca artikel detikjabar, “Pentingnya Deteksi Buta Warna Sejak Dini bagi Siswa Sekolah” selengkapnya https://www.detik.com/jabar/berita/d-8595966/pentingnya-deteksi-buta-warna-sejak-dini-bagi-siswa-sekolah.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top