“Vidyā dhanam sarva-dhana-pradhānam” Pengetahuan adalah harta yang paling utama di antara segala harta.
Di tengah hamparan perkebunan nanas milik PT. Great Giant Foods (GGF) Lampung, terdapat sebuah kisah yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Kisah ini bukan tentang kemegahan bangunan atau kemudahan fasilitas pendidikan, melainkan tentang semangat, ketekunan, dan pengorbanan sekelompok anak-anak Hindu di Dusun Kijung yang terus berjuang menuntut ilmu agama.
Di dusun tersebut belum tersedia pasraman maupun guru agama Hindu yang dapat membimbing mereka secara rutin. Keterbatasan itu tidak memadamkan semangat belajar. Sebaliknya, keadaan tersebut justru menjadi penyemangat bagi mereka untuk mencari pengetahuan ke tempat yang dapat memberikan pembinaan keagamaan.
Setiap kali kegiatan pasraman dilaksanakan, mereka menempuh perjalanan menuju Pasraman Cakra Bhuana di Kecamatan Terusan Nunyai. Perjalanan itu bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus melintasi jalan perkebunan nanas yang panjang, melewati areal milik PT. GGF Lampung dengan berbagai kondisi alam yang menantang.
Ketika musim hujan tiba, jalan berubah menjadi hamparan lumpur. Kendaraan sulit melintas, roda sering terperosok, dan pakaian yang semula bersih berubah penuh cipratan tanah. Namun, keadaan tersebut tidak menyurutkan langkah mereka. Mereka tetap berangkat karena memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak datang kepada orang yang hanya menunggu, melainkan kepada mereka yang mau berusaha.
Sebaliknya, ketika musim kemarau datang, tantangan pun berganti. Debu beterbangan di sepanjang jalan perkebunan. Terik matahari menyengat, sementara angin membawa butiran debu yang menempel di wajah dan pakaian. Walaupun demikian, mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat demi mengikuti pembelajaran agama Hindu.
Perjuangan mereka mengingatkan kita pada kisah Satyakama Jabala yang terdapat dalam Chandogya Upanisad. Satyakama adalah seorang anak yang memiliki keinginan besar untuk belajar tentang Brahman dan kebenaran hidup. Meskipun berasal dari latar belakang sederhana dan menghadapi berbagai keterbatasan, ia tidak menyerah. Dengan kejujuran, ketekunan, dan semangat belajar yang tinggi, ia datang kepada seorang guru untuk menuntut ilmu. Karena ketulusan hati dan kesungguhannya, ia diterima sebagai murid dan akhirnya memperoleh kebijaksanaan yang luhur.
Kisah Satyakama mengajarkan bahwa jalan menuju pengetahuan sering kali tidak mudah. Yang menentukan keberhasilan bukanlah kemudahan fasilitas atau latar belakang seseorang, melainkan kemauan untuk belajar, ketulusan hati, dan keteguhan dalam menjalani proses.
Nilai-nilai itulah yang tampak dalam perjuangan siswa-siswi Hindu Dusun Kijung. Walaupun tidak memiliki pasraman di lingkungan tempat tinggal mereka dan belum tersedia guru agama Hindu yang membimbing secara tetap, mereka tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk berhenti belajar. Mereka memilih melangkah, menempuh perjalanan yang panjang dan penuh tantangan demi memperoleh pengetahuan agama.
Perjalanan menuju Pasraman Cakra Bhuana sesungguhnya bukan sekadar perjalanan fisik. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan perjalanan spiritual. Setiap kilometer yang mereka tempuh adalah wujud śraddhā (keyakinan) dan bhakti (pengabdian) kepada ajaran Hindu. Setiap rintangan yang mereka lalui menjadi latihan untuk membentuk karakter yang tangguh, disiplin, dan pantang menyerah.
Dalam Bhagavad Gita diajarkan bahwa seseorang hendaknya tetap teguh menjalankan kewajibannya dengan penuh ketulusan. Semangat itulah yang tercermin dari anak-anak Dusun Kijung. Mereka memahami bahwa mempelajari ajaran agama bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan membangun karakter dan memperkuat jati diri sebagai umat Hindu.
Semangat anak anak dari Dusun Kijung mendapat support yang sangat luar biasa dari Ketua Adat yaitu bapak Nyoman Sumejaye beliau memfasilitasi kendaraan untuk anak anak berangkat ke pasraman bahkan ketika beliau berhalangan untuk mengantarkan karena tanggung jawab pekerjaan maka sang istri ibu Nyoman Sriyanti yang mengambil alih tugas untuk mengantarkan anak anak tersebut.karena menurut bapak Nyoman Sumejaye “ Pendidikan dan Pengetahuan Agama generasi Hindu itu sangat penting “
Perjuangan mereka juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab anak-anak, tetapi juga tanggung jawab bersama. Orang tua, tokoh masyarakat, pembina pasraman, lembaga keagamaan, pemerintah, dan seluruh umat Hindu memiliki peran untuk memastikan bahwa setiap anak memperoleh kesempatan yang sama dalam belajar dan memahami ajaran dharma, di mana pun mereka tinggal.
Di balik jalan berlumpur saat musim hujan dan jalan berdebu saat musim kemarau, tersimpan harapan besar. Harapan agar suatu hari nanti Dusun Kijung memiliki pasraman sendiri, memiliki guru agama Hindu yang dapat membimbing secara berkesinambungan, serta melahirkan generasi muda Hindu yang cerdas, berkarakter, dan berlandaskan dharma.
Perjuangan siswa-siswi Dusun Kijung membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih ilmu pengetahuan. Selama masih ada semangat untuk belajar, keyakinan kepada Tuhan, dan tekad untuk terus melangkah, maka jalan menuju kebijaksanaan akan selalu terbuka.
Semoga kisah sederhana namun penuh makna ini menjadi inspirasi bagi seluruh umat Hindu. Sebab, seperti Satyakama Jabala yang memperoleh kebijaksanaan melalui ketekunan dan kejujuran, anak-anak Dusun Kijung pun sedang menapaki jalan yang sama jalan menuju cahaya pengetahuan, jalan menuju dharma, dan jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Darwiyati,S.Pd.H., S.H (Penyuluh Agama Hindu Lampung Tengah)
–
Untuk mengakses berbagai layanan Kementerian Agama, silakan kunjungi https://kemenag.go.id/layanan
.
Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah.
Ikuti juga saluran Kementerian Agama di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb9xP10Fy72KZA2gk81S